Senin, 07 Mei 2018

Perkembangan Pembelajaran Revolusi Industri 4.0

Sejarah Revolusi Industri
Revolusi Industri merupakan periode antara tahun 1750-1850 di mana terjadinya perubahan secara besar-besaran di bidang pertanian, manufaktur, pertambangan, transportasi, dan teknologi serta memiliki dampak yang mendalam terhadap kondisi sosial, ekonomi, dan budaya di dunia. Revolusi Industri dimulai dari Britania Raya dan kemudian menyebar ke seluruh Eropa Barat, Amerika Utara, Jepang, dan menyebar ke seluruh dunia.
Revolusi industri keempat merupakan era digital ketika semua mesin terhubung melalui sistem internet atau cyber system. Situasi membawa dampak perubahan besar di mastarakat. Contoh kasus, televisi yang selama ini menjadi satu-satunya produksen hiburan dan informasi berlahan mulai ditinggalkan. Sebaliknya banyak konsumen (publik) yang justru beralih ke kanal media sosial (youtube, Instagram dll). Baik dalam beriklan produk, mencari informasi, hiburan dan lain-lain. Inilah gejala baru revolusi industri keempat. Tak jauh berbeda dengan revolusi-revolusi industri sebelumnya, revolusi industri keempat juga sama pentingnya. Secara umum, definisi revolusi industri adalah ketika kemajuan teknologi yang besar disertai dengan perubahan sosial ekonomi dan budaya yang signifikan.

Pada revolusi industri pertama, dari akhir 1700 sampai pertengahan 1800an, menandai transisi dari pembuatan barang menggunakan tangan dengan beralih ke mesin. Dimulai di Inggris dan diadopsi di Belgia, Prancis, AS dan menjalar ke negara-negara lain. Sementara revolusi industri kedua dimulai pada akhir 1800-an. Sebagian besar sebagai hasil dari penemuan listrik. Diantaranya era produksi massal dan jalur perakitan. Penyebaran teknologi yang luas seperti transportasi, telegraf, kereta api, gas dan air. Situasi ini menimbulkan pergerakan manusia dan informasi tidak seperti sebelumnya. Dan yang terpenting adalah menyebabkan produksi barang seperti mobil, pupuk dan minyak bumi. Sementara itu, revolusi industri ketiga muncul saat pengenalan komputer dan elektronik digital lainnya di tahun 1950an. Di antara perubahan kunci adalah otomasi, yang menyebabkan kenaikan Cina.
Revolusi Industri 4.0

Era revolusi industri 4.0 juga mengubah cara pandang tentang pendidikan. Perubahan yang dilakukan tidak hanya sekadar cara mengajar, tetapi jauh yang lebih esensial, yakni perubahan cara pandang terhadap konsep pendidikan itu sendiri. Pendidikan setidaknya harus mampu menyiapkan anak didiknya menghadapi tiga hal:
a) menyiapkan anak untuk bisa bekerja yang pekerjaannya saat ini belum ada;
b) menyiapkan anak untuk bisa menyelesaikan masalah yang masalahnya saat ini belum muncul, dan
b) menyiapkan anak untuk bisa menggunakan teknologi yang sekarang teknologinya belum ditemukan. Sungguh sebuah pekerjaan rumah yang tidak mudah bagi dunia pendidikan.
Menghadapi Era Revolusi Industri
Untuk bisa menghadapi semua tantangan tersebut, syarat penting yang harus dipenuhi adalah bagaimana menyiapkan kualifikasi dan kompetensi guru yang berkualitas. Pasalnya, di era revolusi industri 4.0 profesi guru makin kompetitif. Setidaknya terdapat lima kualifikasi dan kompetensi guru yang dibutuhkan di era 4.0. Kelimanya meliputi:
(1) Educational competence, kompetensi mendidik/pembelajaran berbasis internet of thing sebagai basic skill di era ini;
(2) Competence for technological commercialization, punya kompetensi membawa siswa memiliki sikap entrepreneurship (kewirausahaan) dengan teknologi atas hasil karya inovasi siswa;
(3) Competence in globalization, dunia tanpa sekat, tidak gagap terhadap berbagai budaya, kompetensi hybrid, yaitu global competence dan keunggulan memecahkan problem nasional;
(4) Competence in future strategies, dunia mudah berubah dan berjalan cepat, sehingga punya kompetensi memprediksi dengan tepat apa yang akan terjadi di masa depan dan strateginya, dengan cara joint-lecture, joint-research, joint-resources, staff mobility dan rotasi, paham arah SDG’s, dan lain sebagainya.
(5) Cconselor competence, mengingat ke depan masalah anak bukan pada kesulitan memahami materi ajar, tapi lebih terkait masalah psikologis, stres akibat tekanan keadaan yang makin komplek dan berat.
Tak terkecuali dalam pembelajaran, perubahan bisa dengan melakukan reorientasi kurikulum untuk membangun kompetensi era revolusi industri 4.0 dan menyiapkan pembelajaran berbasis daring dalam bentuk hybrid atau blended learning.  Saat ini yang namanya revolusi industri ke 4 dimulai dengan revolusi internet yang dimulai pada tahun 90-an, nah tahun 90-an belum tahu kalau internet efeknya akan seperti hari ini. Hari ini seluruh negara di dunia baru melihat apa efek dari Internet of things, Menghadapi era revolusi industri 4.0, peran pendidikan tinggi menjadi sangat penting, terutama dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Oleh karenanya, pendidikan tinggi yang berbasis riset harus mendorong semakin terbukanya pengetahuan yang mampu meningkatkan kesejahteraan manusia.
Pengaruh di bidang pendidikan

Tidak dapat kita pungkiri, dengan semakin canggihnya teknologi yang sedang berkembang mau tidak mau membawa perubahan yang cukup signifikan di berbagai lintas sektor kehidupan. Salah satu bahasan yang cukup menarik yakni terkait hubungan revolusi industri 4.0 dengan sistem pendidikan di Indonesia, sesuai arahan MENRISTEKDIKTI terkait dampak industri 4.0 yakni dengan adanya ‘digitalisasi sistem’, mau tidak mau menuntut baik para dosen maupun mahasiswa untuk mampu dengan cepat beradaptasi dengan perubahan yang ada. Sistem pembelajaran yang semula berbasis pada tatap muka secara langsung di kelas, bukan tidak mungkin akan dapat digantikan dengan sistem pembelajaran yang terintegrasikan melalui jaringan internet (online learning). Adanya perubahan tersebut juga memiliki analisis risk-benefit, di mana keuntungan yang bisa didapatkan antara lain mahasiswa tetap bisa belajar dan tetap bisa mengakses materi pembelajaran tanpa harus hadir di kelas, hal ini pun menjadi keuntungan tersendiri bagi siswa yang mengalami kendala dalam hal jarak dan finansial.
Menristekdikti menjelaskan ada lima elemen penting yang harus menjadi perhatian dan akan dilaksanakan oleh Kemenristekdikti untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan daya saing bangsa di era Revolusi Industri 4.0, yaitu:
1. Persiapan sistem pembelajaran yang lebih inovatif di perguruan tinggi seperti penyesuaian kurikulum pembelajaran, dan meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam hal data Information Technology (IT), Operational Technology (OT), Internet of Things (IoT), dan Big Data Analitic, mengintegrasikan objek fisik, digital dan manusia untuk menghasilkan lulusan perguruan tinggi yang kompetitif dan terampil terutama dalam aspek data literacy, technological literacy and human literacy.
2. Rekonstruksi kebijakan kelembagaan pendidikan tinggi yang adaptif dan responsif terhadap revolusi industri 4.0 dalam mengembangkan transdisiplin ilmu dan program studi yang dibutuhkan. Selain itu, mulai diupayakannya program Cyber University, seperti sistem perkuliahan distance learning, sehingga mengurangi intensitas pertemuan dosen dan mahasiswa. Cyber University ini nantinya diharapkan menjadi solusi bagi anak bangsa di pelosok daerah untuk menjangkau pendidikan tinggi yang berkualitas.
3. Persiapan sumber daya manusia khususnya dosen dan peneliti serta perekayasa yang responsive, adaptif dan handal untuk menghadapi revolusi industri 4.0. Selain itu, peremajaan sarana prasarana dan pembangunan infrastruktur pendidikan, riset, dan inovasi juga perlu dilakukan untuk menopang kualitas pendidikan, riset, dan inovasi.
4. Terobosan dalam riset dan pengembangan yang mendukung Revolusi Industri 4.0 dan ekosistem riset dan pengembangan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas riset dan pengembangan di Perguruan Tinggi, Lembaga Litbang, LPNK, Industri, dan Masyarakat.
5. Terobosan inovasi dan perkuatan sistem inovasi untuk meningkatkan produktivitas industri dan meningkatkan perusahaan pemula berbasis teknologi.
Permasalahan
1. apakah hal ini sudah sesuai dengan pendidikan di indonesia?
2. apakah berpengaruh hasil belajar yang di peroleh jika intensitas tatap muka dnegan guru di kurangi dengan adanya revolusi industry ini?
3. bagaimana cara agar pada revolusi industry ini tepat sasaran? seperti yang kita tahu bahwa banyak anak-anak yang kecanduan game online

8 komentar:

  1. Saya mencoba menjawab pertanyaan nomor 2, pengaruh hasil belajar jika itensitas tatap muuka guru dikurangi dengan adanya revolusy industri. Menurut saya jika teknologi sudah semakin canggih dan anak-anak bisa mengikuti dan terbiasa maka hal tersebut tidak berpengaruh besar, yang kita tahu sekarang ini juga diterapkan bahwa siswa menjadi pusat pembelajaran.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya sependapat dengan yulinda bahwa dengan adanya pembelajaran e-learning ini maka proses pembelajaran akan lebih efektif dan efisien

      Hapus
  2. baiklah saya akan mencoba menjawab permasalahan kedua dimana intesitas tatap muka juga berpengaruh karena Peran Pengajar dalam pembelajaran berbasis blended learning sangat penting dalam mengelola pembelajaran. Yang pasti pengajar harus melek informasi. Di samping memiliki keterampilan mengajar dalam menyampaikan isi pembelajaran tatap muka, pengajar juga harus memiliki kpengetahuan dan keterampilan dalam mengembangkan sumber belajar berbasis komputer (Microsoft Word dan Microsoft PowerPoint) dan keterampilan untuk mengakses internet, kemudian dapat menggabungkan dua atau lebih metode pembelajaran tersebut. Seorang pengajar dapat memulai pembelajaran dengan tatap muka terstruktur kemudian dilanjutkan dengan pembelajaran berbasis komputer offline dan pembelajaran secara online. Kombinasi pembelajaran juga dapat diterapkan pada integrasi e-learning (online), menggunakan komputer di kelas, dan pembelajaran tatap muka di kelas. Bimbingan belajar perlu diberikan kepada pebelajar sejak awal, agar para pebelajar memiliki keterampilan belajar kombinasi sejak awal, karena kemampuan ini akan menjadi alat belajar di masa depan. Peran pengjaar sangat penting karena hal ini memerlukan proses transformasi pengetahuan isi dan blended learning sebagai alat. Dengan makin baiknya sistem ekonomi dan kesejahteraan masyarakat, maka penduduk dunia akan semakin banyak pula, oleh karena itu perlu dilakukan pembelajaran yang efisien dalam pemanfaatan sumber daya, pembelajaran berbasis blended learning merupakan suatu keniscayaan untuk dilaksanakan dalam sistem pembelajaran, khususnya di Indonesia. Kunci dari semua ini terletak pada peran pengajar yang mengusai kompetensi untuk mengelola pembelajaran berbasis blended learning.

    BalasHapus
  3. Menjawab permasalahan kedua
    Menurut saya berpengaruh dimana pembelajaran dengan menggunakan format belended e-learning akan lebih baik dibandingkan dengan pembelajaran lansung saja atau secara online saja karena dengan mengkombinasikan keduanya guru dapat memantau keakyifan belajar siswa saat pembelajaran tatap muka dan siswa dapat mengulang pembelajaran secara mandiri di rumah mengguanakn berbagai media elektronik sehingga itu akan lebih efektif

    BalasHapus
  4. Menanggapi permasalahn no 1 Muatan pembelajaran abad 21 harus selalu menyesuaikan dengan
    perubahan termasuk di era industri 4.0. Muatan pembelajaran
    diharapkan mampu memenuhi keterampilan abad 21 (21st century
    skills); 1) pembelajaran dan keterampilan inovasi meliputi penguasan
    pengetahuan dan keterampilan yang beraneka ragam, pembelajaran
    dan inovasi, berpikir kritis dan penyelesaian masalah, komunikasi dan
    kolaborasi, dan kreatifitas dan inovasi, 2) keterampilan literasi digital
    meliputi literasi informasi, literasi media, dan literasi ICT, 3) karir dan
    kecakapan hidup meliputi fleksibilitas dan adaptabilitas, inisiatif,
    interaksi sosial dan budaya, produktifitas dan akuntabilitas, dan
    kepemimpinan dan tanggung jawab (Trilling & Fadel, 2009).

    BalasHapus
  5. Saya coba menanggapi permasalahan kedua, menurut saya berpengaruh, tetapi pengaruh negatif atau positif nya tergantung kepada pengajar dan peserta didik sendiri. Apabila keduanya sudah paham dengan teknologi dan dapat memanfaatkannya dengan benar maka hal ini akan membuat pembelajaran lebih efisien dan efektif, begitu sebaliknya.

    BalasHapus
  6. Untuk pertanyaan ke2 tentunya intensitas tatap muka akan berpengaruh dengan hasil belajar. Namun hal ini tergantung akan siswa itu sendiri. Jika memang dia menanamkan semangat untuk belajar, makan bukan masalah intensitas tatap muka itu berkurang

    BalasHapus
  7. saya akan menanggapi permasalahan saudara bagaimana cara agar pada revolusi industry ini tepat sasaran? seperti yang kita tahu bahwa banyak anak-anak yang kecanduan game online. menurut saya revolusi industri merupakan suatu proses perkembangan teknologi yang berkembang mengikuti zaman dan mengikuti dunia pendidikan dalam penelitian, sehingga tidak bisa dikatakan tepat sasaran, namun jika hasil yang diperoleh dampak dari refolusi industri itu sendiri dapat mengakibatkan dampak buruk dan dampak baik

    BalasHapus