E-learning
merupakan singkatan dari Elektronic Learning, merupakan cara
baru dalam proses belajar mengajar yang menggunakan media elektronik khususnya
internet sebagai sistem pembelajarannya. E-learning merupakan dasar dan
konsekuensi logis dari perkembangan teknologi informasi dan komunikasi.
E-learning dalam arti luas bisa mencakup pembelajaran
yang dilakukan di media elektronik (internet) baik secara formal maupun
informal. E-learning secara formal misalnya adalah pembelajaran dengan
kurikulum, silabus, mata pelajaran dan tes yang telah diatur dan disusun
berdasarkan jadwal yang telah disepakati pihak-pihak terkait (pengelola
e-learning dan pembelajar sendiri). Pembelajaran seperti ini biasanya tingkat
interaksinya tinggi dan diwajibkan oleh perusahaan pada karyawannya atau
pembelajaran jarak jauh yang dikelola oleh universitas dan
perusahaan-perusahaan (biasanya perusahaan konsultan) yang memang bergerak
dibidang penyediaan jasa e-learning untuk umum.
E-learning bisa juga dilakukan secara informal dengan
interaksi yang lebih sederhana, misalnya melalui sarana mailing list,
e-newsletter atau website pribadi
Manfaat E-learning
- Fleksibel. E-learning memberi fleksibilitas dalam memilih waktu dan tempat untuk mengakses perjalanan.
- Belajar Mandiri. E-learning memberi kesempatan bagi pembelajar secara mandiri memegang kendali atas keberhasilan belajar.
- Efisiensi Biaya. E-learning memberi efisiensi biaya bagi administrasi penyelenggara, efisiensi penyediaan sarana dan fasilitas fisik untuk belajar dan efisiensi biaya bagi pembelajar adalah biaya transportasi dan akomodasi.
Manfaat E-learning menurut Pranoto, dkk (2009:309) adalah:
- Penggunaan E-learning untuk menunjang pelaksanaan proses belajar dapat meningkatkan daya serap mahasiswa atas materi yang diajarkan.
- Meningkatkan partisipasi aktif dari mahasiswa.
- Meningkatkan partisipasi aktif dari mahasiswa.
- Meningkatkan kemampuan belajar mandiri mahasiswa.
- Meningkatkan kualitas materi pendidik dan pelatihan.
- Meningkatkan kemampuan menampilkan informasi dengan perangkat teknologi informasi, dimana dengan perangkat biasa sulit dilakukan.
Kelebihan E-learning
Kelebihan
E-learning ialah memberikan fleksibilitas, interaktivitas, kecepatan,
visualisasi melalui berbagai kelebihan dari masing-masing media (Sujana, 2005 :
253 ). Menurut L. Tjokro (2009:187), E-learning memiliki banyak kelebihan yaitu
:
- Lebih mudah diserap, artinya menggunakan fasilitas multimedia berupa gambar, teks, animasi, suara, video.
- Jauh lebih efektif dalam biaya, artinya tidak perlu instruktur, tidak perlu minimum audiensi, bisa dimana saja, bisa kapan saja, murah untuk diperbanyak.
- Jauh lebih ringkas, artinya tidak banyak formalitas kelas, langsung pada pokok bahasan, mata pelajaran sesuai kebutuhan.
- Tersedia 24 jam/hari – 7 hari/minggu, artinya penguaasaan materi tergantung pada semangat dan daya serap siswa, bisa dimonitor, bisa diuji dengan e-test.
Kekurangan
E-learning
Kekurangan
E-learning menurut L. Gavrilova (2006:354) adalah pembelajaran dengan model
E-learning membutuhkan peralatan tambahan yang lebih (seperti komputer,
monitor, keyboard, dsb). Kekurangan E-learning yang diuraikan oleh Nursalam
(2008:140) sebagai berikut :
- Kurangnya interaksi antara pengajar dan pelajar atau bahkan antar pelajar itu sendiri.
- Kecenderungan mengabaikan aspek akademik atau aspek sosial dan sebaliknya membuat tumbuhnya aspek bisnis/komersial.
- Proses belajar mengajar cenderung ke arah pelatihan daripada pendidikan.
- Berubahnya peran pengajar dari yang semula menguasai teknik pembelajaran konvensional, kini juga dituntut mengetahui teknik pembelajaran yang menggunakan ICT (information, communication, dan technology).
- Tidak semua tempat tersedia fasilitas internet ( mungkin hal ini berkaitan dengan masalah tersedianya listrik, telepon, ataupun komputer).
- Kurangnya sumber daya manusia yang menguasai internet.
- Kurangnya penguasaan bahasa komputer.
- Akses pada komputer yang memadai dapat menjadi masalah tersendiri bagi peserta didik.
- Peserta didik bisa frustasi jika mereka tidak bisa mengakses grafik, gambar, dan video karena peralatan yang tidak memadai.
- Tersedianya infrastruktur yang bisa dipenuhi.
- Informasi dapat bervariasi dalam kualitas dan akurasi sehingga penduan dan fitur pertanyaan diperlukan.
- Peserta didik dapat merasa terisolasi
Pada penerapan e-learning ini saya menggunakan
aplikasi whatsApp dimana aplikasi ini
banyak sekali di gunakan oleh masyarakat luas, dengan aplikasi ini kita bisa
membuat e-learning dimana saya membuat sebuah chat room yang beranggotakan murid , disini saya
sebagai guru memberikan materi melalui video penjelasan materi dari saya dan di
dalam diskusi diadakan tanya jawab dan latihan soal-soal. Chat room ini sebagai
media dalam melaksanakan e-learning. Yang mana ketika ada suatu kendala dalam
belajar di kelas dapat diselesaikan melalui e-learning
Berikut ini adalah video pengaplikasian e-learning
melalaui diskusi online via WhatsApp
Permasalahan:
1. Apakah
ada perbedan e-learning tatap muka(video call, live,skype) dengan e-learning melalui bahan ajar yang di
kirimkan? Jika ada jelaskan
2. Berdasarkan
pengaplikasian yang telah saya buat, apakah efektif?
3. apa
landasan atau faktor pendukung yang
sesuai dalam pemilihan aplikasi yang digunakan pada e-learning?


Saya mencoba menjawab permasalahan nomor 1 terkait perbedaan antara pembelajaran tatap muka dengan bahan ajar yg dikirimkan. Menurut saya jika live(tatap muka) akan dikendalakan dengan signal yg kurang baik. Namun jika hanya sekedar mengirimkan file materi tidaklah trlalu membutuhkan signal yg terlalu lancar. Namun ada baiknya ketika mengirimkan file materi harus di imbangi dengan tatap muka(live), dimana siswa dpt bertanya jika ada kesulitan dlm memahami materi yang diberikan. Dan guru jg dapat melihat keaktifan siswa jika si guru jg melakukan live.
BalasHapussaya setuju, karena jika dengan live bergangtung pada sinyal, tetapi kita dapat mengawasi siswa selama e-learning berlangsung
HapusSaya akan menjawab no 3
BalasHapus1.Analisis kebutuhan.
Analisis dilakukan untuk mengetahui kesiapan faktor pendukung yang berupa alat, dana, dan pembuat kebijakan. Sehingga dapat menentukan studi kelayakan pada penggunaan e-learning.
2. Rancangan pembelajaran.
Untuk merancang strategi e-learning terdapat hal yang harus diperhatikan, antara lain ; analisis isi pembelajaran, analisis pembelajar, analisis kompetensi yang akan dicapai, analisis proses pembelajaran, tujuan pembelajaran, dan penyusunan alat evaluasi.
3. Tahap pengembangan.
Tahap pengembangan dilakukan mengikuti perkembangan fasilitas teknologi informasi dan komunikasi yang tersedia.
4. Pelaksanaan.
Prototype yang telah siap untuk dapat diakses, secara kontinyu mendapatkan pengujian untuk mengetahui berbagai hambatan dan standar materi pembelajaran sehingga dapat digunakan dalam pembelajaran mandiri.
5. Evaluasi.
Evaluasi dilakukan dengan cara penelitian terhadap objek pembelajaran, sehingga prototype pembelajaran yang terakses dapat terkontrol sedemikian rupa untuk mengadakan pengambangan lebih lanjut.
terimakasih kepada eka atas jawabaannya, saya setuju karena di dalam e-learning itu sednri harus mencakup 5 landasan yang disebutkan tadi dan harus mencapai tujuan pembelajran
Hapussaya ingin menanggapi permasalahan nomor 2 dimana apakah sudah efektif pengaplikasin yang saudari lakukan menurut saya sudah cukup efektif namun jika ditambahkan lebih latihan soal atau tanya jawab ataupun dilakukan tatap muka (seperti video call) akan lebih baik lagi
BalasHapussaya sependapat dengan rahmi dimana media yang digunakan bisa dikatakan cukup efektif tetapi apabila dengan adanya tujuan ,adanya evaluasi dalam e-learning tersebt.
HapusSaya ingin menanggapi permasalahan pertama saudari mengenai “Apakah ada perbedan e-learning tatap muka(video call, live,skype) dengan e-learning melalui bahan ajar yang di kirimkan? Jika ada jelaskan” menurut saya perbedaanya adalah jika kita melakukan video call dengan sia anak kita tahu aktivitasnya apakah dia memperhatikan atau tidak karena terlihat oleh kita. Teteapi jika hanya mengirim bahan ajar atau saja kita tidak bisa melihat siswa kita apakah benar belajara atau tidak, meskipun diakhir nanti sama sama akan dilaukan evaluasi, namun lebih bai video call karena denga begitu kita bisa melihat sang anak tidak melakukan apapun selain mendengarkan penjelasan guru.
BalasHapusMenjawab permasalahan nomor 1
BalasHapusPerbedaannya menurut saya, jika dilakukan video call guru dapat memastikan apakah siswa benar2 mengikuti pembelajaran atau tidak dan dapat pula menilai keseriusan siswa lewat video call trrsebut, sedangkan file yg dikirimkan hanya dapat dilihat keaktifan belajar siswa dengan mengirimkan soal2 sebagai evaliasi apakah siswa sudah benar2 belajar atau belum
saya mencoba menjawab pertanyaan nomor 3, faktor didalam pemilihan aplikasi e-learng. Pertama mudah digunakan dan tidak berbayar. Menurut saya dengan aplikasi yang mudah ditemuin dan gratis akan menunjang proses e-learning tersebut.
BalasHapusSaya mencoba menanggapi peermasalahan pertama "apakah ada perbedan e-learning tatap muka(video call, live,skype) dengan e-learning melalui bahan ajar yang di kirimkan?" menurut saya tentu terdapat perbedaan, dengan menggunakan e-learning tatap muka kita dapat lebih mudah mengontrol siswa dan mengetahui keaktifan siswa dalam pembelajaran, sedangkan jika hanya mengirim bahan ajar kita tidak mengetahui aktivitas peserta didik, apakah memperhatikan atau tidak. Tetapi terdapat kekurang menggunakan e-learning tatap muka, yaitu membutuhkan koneksi internet yang lancar, sedangkan tidak jika hanya mengirim bahan ajar.
BalasHapussaya akan menanggapi pertanyaan dari saudara dimana Berdasarkan pengaplikasian yang telah saya buat, apakah efektif?
BalasHapusmenurut saya efektif jika dilakukan dalam suasana yang tepat dan jam yang tepat sehingga murid yang belajar tidak dalam kondisi yang lelah atau merasa kantuk yang tinggi, pembelajaran akan lebih efektif jika ada interaksi antara siswa dan guru dalam pembelajaran E-learning, dan dilakukan tidak hanya dalam satu kali waktu
Baiklah saya akan menjawab permasalahan no 2
BalasHapusMenurut saya, digunakannya aplikasi WhatsApp untuk beberapa orang efektif, tetapi jiga digunakan untuk satu kelas kurang efektif dimana dalam suatu kelas biasanya kurang lebih terdiri dari 20 siswa dengan menggunakan Whats App dalam proses pembelajaran dirasa kurang efektif sebab jika terlalu banyak anggota di grup Whats App tersebut dan banyaknya komentar-komentar di grup tersebut akan membuat siswanya binggung dalam hal memahami dan mengerti, sebab jika semua anggota grup tersebut ikut berdiskusi, maka akan ada >100 pecakapan yg membuat siswanya menjadi binggung