Kamis, 19 April 2018

Teori Pemerosesan Informasi Berbantuan Media


Teori pembelajaran pemrosesan informasi menurut Gagne
Teori pembelajaran pemrosesan informasi adalah bagian dari teori belajar sibernetik. Secara sederhana pengertian belajar menurut teori belajar sibernetik adalah pengolahan informasi. Dalam teori ini, seperti psikologi kognitif mengkaji proses belajar penting dari hasil belajar namun yang lebih penting dari kajian proses belajar itu sendiri adalah sistem informasi, sistem informasi inilah yang pada akhirnya akan menentukan proses belajar.
Gagne menjelaskan bagaimana proses belajar itu terjadi. Model proses belajar yang dikembangkan oleh Gagne didasarkan pada teori pemrosesan informasi, yaitu sebagai berikut :
1.      Rangsangan yang diterima panca indera akan disalurkan ke pusat syaraf dan diproses sebagai informasi.
2.      Informasi dipilih secara selektif, ada yang dibuang, ada yang disimpan dalam memori jangka pendek, dan ada yang disimpan dalam memori jangka panjang.
3.      Memori-memori ini tercampur dengan memori yang telah ada sebelumnya, dan dapat diungkap kembali setelah dilakukan pengolahan.
Dalam bukunya Robert M. Gagne disebutkan bahwa : A very special kind of intellectual skill, of particular in probelem solving, is called a cognitive strategy. In term of modern learning theory, a cognitive strategy is a control process. An internal process by means of which thinking. Gagne mengemukakan delapan fase dalam satu tindakan belajar. Fase-fase itu merupakan kejadian-kejadian eksternal yang dapat distrukturkan oleh siswa atau guru. Setiap fase dipasangkan dengan suatu proses yang terjadi dalam pikiran siswa. Kejadian-kejadian belajar itu akan diuraikan dibawah ini, yaitu:
1.   Fase motivasi : siswa yang belajar harus diberi motivasi untuk memanggil informasi yang telah dipelajari sebelumnya.
2.   Fase pengenalan : siswa harus memberikan perhatian pada bagian-bagian yang esensial dari suatu kejadian instruksional, jika belajar akan terjadi.
3.   Fase perolehan : apabila siswa memperhatikan informasi yang relevan, maka ia telah siap untuk menerima pelajaran.
4.   Fase retensi : informasi baru yang diperoleh harus dipindahkan dari memori jangka pendek ke memori jangka panjang. Ini dapat terjadi melalui penggulangan kembali
5.   Fase pemanggilan : pemanggilan dapat ditolong dengan memperhatikan kaitan-kaitan antara konsep khususnya antara pengetahuan baru dengan pengetahuan sebelumnya.
6.    Fase generalisasi : biasanya informasi itu kurang nilainya, jika tidak dapat diterapkan diluar konteks di mana informasi itu dipelajari.
7.   Fase penampilan : tingkah laku yang dapat diamati. Belajar terjadi apabila stimulus mempengaruhi individu sedemikan rupa sehingga performancenya berubah dari situasi sebelum belajar kepada situasi sesudah belajar.
8.   Fase umpan balik : para siswa harus memperoleh umpan balik tentang penampilan mereka yang menunjukkan apakah mereka telah atau belum mengerti tentang apa yang diajarkan.
Penerapan teori yang salah dalam situasi pembelajaran mengakibatkan terjadinya proses pembelajaran yang sangat tidak menyenangkan bagi siswa yaitu guru sebagai sentral bersikap otoriter, komunikasi berlangsung dalam satu arah, guru melatih dan menentukan apa yang harus dipelajari murid. Penggunaan hukuman yang sangat dihindari para tokoh behavioristik dianggap metode paling efektif untuk menertibkan siswa.
Teori Pemerosesan Informasi Menurut Atkinsons
Model pemrosesan informasi menurut Atkinson dan Shiffrin ini mendasarkan pada konsep memori dengan tiga bentuk simpanannya yaitu memori sensoris atau memori cerapan indera, memori jangka pendek, dan memori jangka panjang. Setiap bentuk simpanan dari teori ini memiliki kapasitas dan tugas yang berbeda-beda. Memori cerapan indera memiliki kemampuan untuk menyimpan sejumlah informasi yang ditangkap melalui indera yang relatif terbatas untuk periode waktu yang sangat singkat. Pada saat kita memperoleh informasi, informasi tersebut akan ditangkap oleh indera kita lalu masuk ke dalam memori sensoris kita dan dipertahankan dalam waktu yang relative singkat. Setelah itu, informasi tersebut akan ditransfer ke memori jangka pendek. Pada memori jangka pendek informasi dipertahankan selama 30 detik atau kurang.

Tahapan pemerosesan informasi menurut Atkinson
Sensory Memory (SM)
Informasi masuk ke dalam sistem pengolah informasi manusia melalui berbagai saluran sesuai dengan inderanya. Sistem persepsi bekerja pada informasi ini untuk menciptakan apa yang kita pahami sebagai persepsi. Karena keterbatasan kemampuan dan banyaknya informasi yang masuk, tidak semua informasi bisa diolah. Informasi yang baru saja diterima ini disimpan dalam suatu ruang sementara (buffer) yang disebut sensory memory. Durasi suatu informasi dapat tersimpan di dalam sensory memory ini sangat singkat, kurang dari 1/2 sekon untuk informasi visual dan sekitar 3 sekon untuk informasi audio. Tahap pemrosesan informasi tahap pertama ini sangat penting karena menjadi syarat untuk dapat melakukan pemrosesan informasi di tahap berikutnya, sehingga perhatian pembelajar terhadap informasi yang baru diterimanya ini menjadi sangat diperlukan. Pembelajar akan memberikan perhatian yang lebih terhadap informasi jika informasi tersebut memiliki fitur atau ciri khas yang menarik dan jika informasi tersebut mampu mengaktifkan pola pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya (prior knowledge).
 Short-term Memory (STM) atau \"Working Memory\"
Short-term memory atau working memory berhubungan dengan apa yang sedang dipikirkan seseorang pada suatu saat ketika menerima stimulus dari lingkungan. Durasi suatu informasi tersimpan di dalam short-term memory adalah 15 – 20 sekon. Durasi penyimpanan di dalam short-term memory ini akan bertambah lama, bisa menjadi sampai 20 menit, jika terdapat pengulangan informasi. Informasi yang masuk ke dalam short-term memory berangsur-angsur menghilang ketika informasi tersebut tidak lagi diperlukan. Jika informasi dalam short-term memory ini terus digunakan, maka lama-kelamaan informasi tersebut akan masuk ke dalam tahapan penyimpanan informasi berikutnya, yaitu long-term memory.
 Long-term Memory (LTM)
Long-term memory merupakan memory penyimpanan yang relatif permanen, yang dapat menyimpan informasi meskipun informasi tersebut mungkin tidak diperlukan lagi. Informasi yang tersimpan di dalam long-term memory diorganisir ke dalam bentuk struktur pengetahuan tertentu, atau yang disebut dengan schema. Schema mengelompokkan elemen-elemen informasi sesuai dengan bagaimana nantinya informasi tersebut akan digunakan, sehingga schema memfasilitasi akses informasi di waktu mendatang ketika akan digunakan (proses memanggil kembali informasi). Dengan demikian, keahlian seseorang berasal dari pengetahuan yang tersimpan dalam bentuk schema di dalam long-term memory, bukan dari kemampuannya untuk melibatkan diri dengan elemen-elemen informasi yang belum terorganisasi di dalam long-term memory (Merrienboer dan Sweller, 2005).
Penyimpanan informasi dalam long-term memory dapat diumpamakan seperti peristiwa yang terjadi pada penulisan data ke dalam disket atau hardisk komputer atau pun perekaman suara ke dalam kaset. Kapasitas penyimpanan dalam long-term memory ini dapat dikatakan tak terbatas besarnya dengan durasi penyimpanan seumur hidup. Kapasitas penyimpanan disebut tak terbatas dalam arti bahwa tidak ada seseorang pun yang pernah kekurangan “ruang” untuk menyimpan informasi baru, berapa pun umur orang tersebut. Durasi penyimpanan seumur hidup diartikan sebagai informasi yang sudah masuk di dalam long-term memory tidak akan pernah hilang, meskipun bisa saja terjadi informasi tersebut tidak berhasil diambil kembali (retrieval) karena beberapa alasan.
 Permasalahan:
1.                  Bagaimana cara guru untuk mengaktifkan kembali ingatan siswa terhadap pelajaran?
2.                  Dalam teori gagne, guru sebagai sentral bersikap otoriter. Apakah menurut anda teori ini         efektif di terapkan dalam pemerosesan informasi?
3.                  Informasi masuk ke dalam sistem pengolah informasi manusia melalui berbagai saluran sesuai dengan inderanya. Bagaimana cara guru menerapkan pernyataan ini?

12 komentar:

  1. Saya akan membantu menjawab permasalahan no. 1 dimana Strategi-strategi yang digunakan dalam mengaktifkan siswa adalah Reconecting (Menghubungkan Kembali), Inquiring Minds What To Know (Membangkitkan Rasa Ingin Tahu), Learning Starts With A Question (Belajar Memulai dengan Sebuah Pertanyaan), The Power Of Two (Kekuatan Berdua), dan Everyone Is A Teacher Here (Setiap Orang adalah Guru).
    1. Reconnecting (Menghubungkan Kembali) artinya adalah metode belajar dengan cara menghubungkan kembali artinya mengembalikan perhatian anak didik pada pelajaran setelah beberapa saat tidak melakukan suatu aktivitas.
    2. Model pembelajaran Learning Starts With A Question adalah suatu model pembelajaran dimana sistem belajar dimulai dari pertanyaan-pertanyaan siswa yang bekerja dalam kelompok-kelompok kecil yang berjumlah 4-6 orang secara kolaboratif sehingga dapat merangsang siswa lebih bergairah dalam belajar karena siswa itu akan saling berkelompok, membuat pertanyaan dalam menyelesaikan tugas.
    3. Strategi The Power Of Two adalah merupakan aktifitas belajar untuk mendorong pembelajaran kooperatif dan memperkuat arti penting serta sinergi dua orang dengan prinsip bahwa berfikir berdua lebih baik dari pada berfikir diri sendiri, dan ini akan sangat efektif jika guru dengan mengkondisikan siswa aktif dan terjadi hubungan dinamis dan saling mendukung antara siswa yang satu dengan yang lainnya. Strategi Reconnecting (menghubungkan kembali) digunakan untuk mengembalikan perhatian anak didik pada pelajaran setelah beberapa saat untuk mengetahui sejauh mana anak dalam menerima pelajaran terebut.
    4. Istilah every one is a teacher here berasal dari bahasa inggris yang berarti setiap orang adalah guru. Jadi every one is teacher here adalah suatu strategi yang memberi kesempatan pada setiap peserta didik untuk bertindak sebagai “pengajar” terhadap peserta didik lain

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih saudari nida atas jawabannya, banyak startegi yang bisa digunakan ini hanya sebagiannya

      Hapus
  2. saya akan mencoba menanggapi masalah no 1.
    Cara untuk mengaktifkan kembali ingatan siswa adalah sbb:
    1.Metode pengulangan. Informasi yang di ulang-ulang akan semakin di ingat. Saat kita sudah mulai lupa tentang suatu materi pembelajaran, kita dapat melakukan pengulangan sehingga memori ingatan kita akan aktif kembali tentang meteri tersebut. Untuk salah satu strategi peningkatan kemampuan memori adalah mengulang-ulang kembali. Ini selaras dengan teori pembiasaan .

    2.Teknik Asosiasi. Teknik asosiasi atau cantolan adalah bagaimana cara kita mengasosiasikan pelbagai hal dalam memori kita. Kita dapat menggunakan asosiasi sederhana untuk mengingat potongan-potongan informasi. Selain itu, teknik ini juga untuk mengajarkan daftar informasi yang panjang, terutama saat kita ingin mengingat informasi dengan urutan tertentu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih atas tanggapannya, dalam metode pengulangan ini hal seperti apa yang dilakukan oleh guru? dan pada saat kapan metode ini dilakukan?

      Hapus
  3. Menurut Gagne bahwa dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi, untuk kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil belajar. Dalam pemrosesan informasi terjadi adanya interaksi antara kondisi-kondisi internal dan kondisi-kondisi eksternal individu. Kondisi internal yaitu keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan proses kognitif yang terjadi dalam individu. Sedangkan kondisi eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran. Ketika individu belajar, di dalam dirinya berlangsung proses kendali atau pemantau bekerjanya sistem yang berupa prosedur strategi mengingat, untuk menyimpan informasi ke dalam
    long-term memory(materi memory atau ingatan) dan strategi umum pemecahan masalah (materi kreativitas).
    Mengenai guru sebagai central, menurut saya itu hanya memberikan informasi satu arah oleh sebab itu lebih baik jika informasi didapat dari dari diskusi dengan diberikan pengarahan oleh guru sehingga pemrosesan informasi berjalan dengan baik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih saudari mutia atas jawabannya, sedikit menambahkan guru sebagai centraal itu guru itu yang menguasai kelas dalam pembelajaran yang mengarahkan siswa-siswanya

      Hapus
  4. Baiklah saya akan menjawab pertanyaan no 1
    Cara-cara di bawah untuk mengaktifkan daya ingat dan dapat membantu dalam mempertajamkan daya ingatan.

    Imajeri Visual

    Imajeri visual adalah membayangkan gambar di dalam pikiran. Untuk merangsang daya ingat kita harus membayangkan sesuatu dalam bentuk gambar atau bentuk verbal (tulisan, lisan) dibayangkan dalam bentuk non-verbal, seperti kalimat “

    Organisasi

    Cara kedua mempertajam daya ingatan dengan mengorganisasikan informasi atau menstrukturkan informasi untuk membuat tatanan dan pola tertentu. Informasi dapat dilakukan secara berantai, berurut, teratur, berdasarkan sub-sub, bagian-bagian, dari yang mudah ke sulit. Organisasi serial dapat dipergunakan ketika seseorang harus mengingat banyak kejadian. Ia dapat menyusunkan urutan kejadian-kejadian itu sesuai dengan waktu kejadian, kemudian organisasi hirarkis dapat dilakukan dengan cara mengelompokkan informasi berdasarkan tingkatan-tingkatan atau urutan-urutan dari yang besar sampai pada tingkat yang kecil.

    Mediasi

    Mediasi juga dapat disebut dengan kata lain “perantara”. Cara lain untuk mempertajamkan ingatan dengan menghubungkan kata yang familiar dalam fikiran kita, seperti mengaitkan satu kata dengan kata lain, atau membuat singkatan kalimat-kalimat yang familiar. Contoh, seperti nama di tabel priodik kimia H yang berarti hidrogen O2 yang berarti oksigen dan masih banyak contoh yang lain.

    Simbol

    Simbol dipergunakan untuk mengganti objek yang diingatkan, baik dengan mempergunakan simbol gambar, simbol huruf, simbol angka, contohnya, agar seseorang mudah mengingat Hg yang berarti merkuri dan Fe adalah besi dan lain sebagainya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih atas jawabannya yang saudari berikan. menurut saya untuk mengaktifkan daya ingat itukembali kepada kemampuan individu, jika guru telah berusaha membantu kembali lagi apakah itu berpengaruh atau tidak. saya setuju dengan jawabaan yang anda terangkan

      Hapus
  5. baiklah saya akan mencoba menjawab permasalahan no1 dimana salah satu caranya seperti berikut ini Tersimpannya informasi secara permanen di dalam ingatan jangka panjang sangat ditentukan atau dipengaruhi oleh komponen lain, seperti perhatian (attention), pengharapan (expectancy), dan retrival (mengingatkan kembali).

    Perhatian (attention) adalah pemusatan fikiran terhadap suatu objek atau tugas tertentu pada saat yang sama mengabaikan objek dan tugas yang lain. Menurut Matlin (dalam Suharnan[13]) perhatian dapat dibedakan dalam dua jenis, (a) perhatian terbagi (divided attention), (b) perhatian terpilih (selective attention). Perhatian terbagi merupakan pemusatan fikiran terhadap lebih dari satu objek atau sumber informasi yang saling berkompetisi, sehingga perhatian terbagi. Kemudian perhatian terpilih yaitu pemusatan fikiran terhadap satu objek atau tugas yang jadi pilihan, atau menentukan pilihan pada waktu yang bersamaan di mana seseorang mesti menentukan satu pilihan dan mengabaikan yang lainnya. Menurut Gagne informasi yang bermakna dapat tersimpan dalam ingatan jangka panjang yang menjadi bagian dari sistem pengetahuan dan merupakan tujuan dari belajar seseorang. Pengetahuan yang dimiliki seseorang merubah perilaku, keterampilan, sikap, dan nilai Gagne[14] menyebutnya kapabilitas. Kapabilitas adalah hasil dari belajar.

    Pengharapan (expectancy) merupakan sikap (arah jiwa) dengan membutuhkan perhatian penuh yang disertai dengan ketegangan otot-otot yang semakin meninggi terhadap suatu objek.

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih atas jawabannya, tetapi anada menyebutkan kapasibilitas dari hasil belajar, maksudnya seperti apa ya?

      Hapus
  6. Menjawab pertanyaan pertama, guru harus selalu melakukan pengulangan dan penguatan agar pengetahuan yg telah dimiliki semakin kuat diingat.

    BalasHapus
  7. Baiklah saya akan menjawab permasalahan no 1
    Menurut saya, cara yang dilakukan guru untuk mengaktifkan kembali ingatan siswa terhadap pelajaran yaitu dengan cara pengulangan. Menurut teori pemrosesan informasi jika pengulangan dilakukan maka informasi dapat diteruskan ke memori jangka panjang (long term memory). Para peneliti menyatakan bahwa memori jangka panjang dapat menyimpan informasi sangat lama, tergantung pada penggunaannya. Dalam proses pembelajaran guru bisa melakukannya dengan cara menyinggung materi minggu sebelumnya dan bertanya beberapa pertanyaan, yg menjawab pertanyaan tersebut diberikan reword berupa nilai tambahan.

    BalasHapus