PRINSIP DASAR MULTIMEDIA PEMBELAJARAN
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatu
Baik
lah pada kali ini kita akan membahas mengenai Prinsip Dasar Multimedia
Pembelajaran. Namun, sebelum kita membahas tentang prinsip dasarnya kita harus tau dulu
ini apa itu Multimedia berikut penjelasaannya
Multimedia adalah penggunaan komputer untuk menyajikan dan menggabungkan teks, suara, gambar, animasi dan video dengan alat bantu (tool) dan koneksi (link) sehingga pengguna dapat melakukan navigasi, berinteraksi, berkarya dan berkomunikasi. Multimedia sering digunakan dalam dunia hiburan. Selain dari dunia hiburan, Multimedia juga diadopsi oleh dunia game.
Multimedia adalah penggunaan komputer untuk menyajikan dan menggabungkan teks, suara, gambar, animasi dan video dengan alat bantu (tool) dan koneksi (link) sehingga pengguna dapat melakukan navigasi, berinteraksi, berkarya dan berkomunikasi. Multimedia sering digunakan dalam dunia hiburan. Selain dari dunia hiburan, Multimedia juga diadopsi oleh dunia game.
Multimedia dimanfaatkan
juga dalam dunia pendidikan dan bisnis. Di dunia pendidikan, multimedia digunakan
sebagai media pengajaran, baik dalam kelas maupun secara sendiri-sendiri. Di
dunia bisnis, multimedia digunakan sebagai media profil perusahaan, profil
produk, bahkan sebagai media kios informasi dan pelatihan dalam sistem
e-learning.
Rosch
menyatakan bahwa multimedia adalah kombinasi dari komputer dan video. Sementara
Mc. Cormick mendefinisikan multimedia sebagai kombinasi dari tiga elemen, yaitu
suara, gambar, dan teks. Robin & Linda mengartikan multimedia sebagai alat
yang dapat menciptkakan presentasi yang dinamis dan interaktif yang
mengkombinasikan teks, grafik, animasi, auido, dan gambar video (Suyanto, 2003:
5).Ade Cahyana dan Devi Munandar (2008) memberikan definisi teknologi
multimedia sebagai perpaduan dari teknologi komputer baik perangkat keras
maupun perangkat lunak dengan teknologi elektronik. Menurut keduanya sekarang
ini perkembangan serta pemanfaatan teknologi multimedia banyak digunakan hampir
di seluruh aspek kegiatan.
Dalam buku
yang berjudul ”The Developers Handbook to Interaktive Multimedia”,
Rob Philip (1997: 8) menjelaskan :
”The term ‘multimedia’ is a
catch-all phrase to describe the new wave of computer software that primarily
deals with the provisions of information. The ’multimedia’ component is
characterized by the presence of text, picture, sound, animation and video;
some or all wich are organized into some coherence program. The ‘interactive’
component refers to the process of empowering the user to control the environment
usually by a computer.”
Berdasarkan
beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa multimedia merupakan
perpaduan dari beberapa elemen informasi yang dapat berupa teks, gambar, suara,
animasi, dan video. Program multimedia biasanya bersifat interaktif.
Prinsip Pengembangan
Multimedia Pembelajaran
Beberapa
prinsip yang harus diperhatikan dalam pengembangan media pembelajaran meliputi:
prinsip kesiapan dan motivasi, penggunaan alat pemusat perhatian, pengulangan,
partisipasi aktif peserta didik, dan umpan balik (Abdul Gafur, 2007: 20-22).
Prinsip
kesiapan dan motivasi menekankan bahwa kesiapan dan motivasi peserta didik
untuk menerima informasi pembelajaran sangat berpengaruh terhadap keberhasilan
proses belajar mengajar. Kesiapan peserta didik mencakup kesiapan pengetahuan
prasyarat, kesiapan mental, dan kesiapan fisik. Motivasi merupakan dorongan
untuk melakukan atau mengikuti kegiatan belajar. Motivasi tersebut dapat
berasal dari dalam diri maupun dari luar diri peserta didik (Abdul Gafur,
2007: 20).
Penggunaan
alat pemusat perhatian dalam media pembelajaran dapat menjadi daya tarik
tersendiri bagi peserta didik untuk fokus terhadap materi pelajaran. Hal ini
membantu konsentrasi peserta didik dalam memahami isi pelajaran sehingga
penguasaan mereka menjadi lebih baik.
Informasi atau keterampilan baru jarang sekali dapat
dikuasai secara maksimal hanya dengan satu kali proses belajar. Agar penguasaan
terhadap informasi
atau keterampilan baru tersebut dapat lebih optimal, maka perlu dilakukan
bebrapa kali pengulangan. Prinsip pengulangan ini harus diperhatikan dalam
mengembangkan media pembelajaran.
Proses
belajar mengajar akan lebih berhasil manakala terjadi interaksi dua arah antara
pengajar dan peserta didik. Partisipasi aktif peserta didik dalam pembelajaran
dapat meningkatkan pemahaman dan penguasaan materi pelajaran. Oleh karena itu
media pembelajaran yang digunakan hendaknya mampu menimbulkan keterlibatan
peserta didik secara aktif (interaktif) dalam proses belajar
Umpan balik
yang diberikan oleh pengajar secara tepat dapat menjadi pendorong bagi peserta
didik untuk selalu meningkatkan prestasinya. Untuk itu, pengajar harus
memberikan respon umpan balik secara berkala terhadap kemajuan belajar peserta
didik (Abdul Gafur, 2007: 20).
Prinsip-prinsip tersebut di atas
dapat diakomodasi dalam sebuah media pembelajaran berupa multimedia
pembelajaran interaktif dan web pembelajaran
Prinsip-Prinsip
Multimedia untuk Pembelajaran
Ada 12 prinsip yang digunakan dalam merancang
multimedia yaitu:
1) Prinsip
Multimedia
Orang belajar lebih baik dari gambar
dan kata dari pada sekedar kata-kata saja. Karena dinamakan multimedia berarti
wajib mampu mengkombinasikan berbagai media (teks, gambar, grafik,
audio/narasi, video, animasi, simulasi, dll) menjadi satu kesatuan yang
harmonis. Sebab kalau tidak namanya bukan multimedia tapi single-media.
2) Prinsip
Kesinambungan Spasial
Orang belajar lebih baik ketika
kata dan gambar terkait disandingkan berdekatan dibandingkan apabila
disandingkan berjauhan atau terpisah. Oleh karena itu, ketika ada gambar (or
sodarenye nyang laen seperti video, animasi, dll) yang dilengkapi dengan teks,
maka teks tersebut harus merupakan jadi satu kesatuan dari gambar tersebut,
jangan menjadi sesuatu yang terpisah.
3) Prinsip
Kesinambungan Waktu
Orang belajar lebih baik ketika
kata dan gambar terkait disajikan secara simultan dibandingkan apabila
disajikan bergantian atau setelahnya. Nah, ketika Anda ingin memunculkan suatu
gambar dan atau animasi atau yang lain beserta teks, misalnya, sebaiknya
munculkan secara bersamaan alias simultan. Jangan satu-satu, sebab akan
memberikan kesan terpisah atau tidak terkait satu sama lain. Begitu kata Mayer.
4) Prinsip
Koherensi
Orang belajar lebih baik ketika
kata-kata, gambar, suara, video, animasi yang tidak perlu dan tidak relevan
tidak digunakan. Nah, ini yang sering terjadi. Banyak sekali pengembang media
mencantumkan sesuatu yang tidak perlu. Mungkin maksudnya untuk mempercantik
tampilan, memperindah suasana atau menarik perhatian mata. Tapi, menurut Mayer,
hal ini sebaiknya dihindari. Cantumkan saja apa yang perlu dan relevan dengan
apa yang disajikan. Jangan macam-macam.
5) Prinsip
Modalitas Belajar
Orang belajar lebih baik dari
animasi dan narasi termasuk video), daripada dari animasi plus teks pada layar.
Jadi, lebih baik animasi atau video plus narasi daripada sudah ada narasi
ditambah pula dengan teks yang panjang. Hal ini, sangat mengganggu.
6) Prinsip
Redudansi
Orang belajar lebih baik dari
animasi dan narasi termasuk video), daripada dari animasi, narasi plus teks
pada layar (redundan). Sama dengan prinsip di atas. Jangan redudansi, kalau
sudah diwakili oleh narasi dan gambar/animasi, janganlah tumpang tindih pula
dengan teks yang panjang.
7) Prinsip
Personalisasi
Orang belajar lebih baik dari teks
atau kata-kata yang bersifat komunikatif (conversational) daripada kalimat yang
lebih bersifat formal. Lebih baik menggunakan kata-kata lugas dan enak
daripada bahasa teoritis, oleh karena itu, sebaiknya gunakan bahasa yang
komunikatif dan sedikit ber-style.
8) Prinsip
Interaktivitas
Orang belajar lebih baik ketika
ia dapat mengendalikan sendiri apa yang sedang dipelajarinya (manipulatif:
simulasi, game, branching). Sebenarnya, orang belajar itu tidak selalu linier
alias urut satu persatu. Dalam kenyataannya lebih banyak loncat dari satu hal
ke hal lain. Oleh karena itu, multimedia pembelajaran harus memungkinkan
user/pengguna dapat mengendalikan penggunaan daripada media itu sendiri. dengan
kata lain, lebih manipulatif (dalam arti dapat dikendalikan sendiri oleh user)
akan lebih baik. Simulasi, branching, game, navigasi yang konsisten dan jelas,
bahasa yang komunikatif, dan lain-lain akan memungkinkan tingkat interaktivitas
makin tinggi.
9) Prinsip
Sinyal (cue, highlight, ..)
Orang belajar lebih baik ketika
kata-kata, diikuti dengan cue, highlight, penekanan yang relevan terhadap apa
yang disajikan. Kita bisa memanfaatkan warna, animasi dan lain-lain untuk
menunjukkan penekanan, highlight atau pusat perhatian (focus of interest).
Karena itu kombinasi penggunaan media yang relevan sangat penting sebagai
isyarat atau kata keterangan yang memperkenalkan sesuatu.
10)
Prinsip Perbedaan Individu
9 prinsip tersebut berpengaruh
kuat bagi mereka yang memiliki modalitas visual tinggi, kurang berpengaruh bagi
yang sebaliknya. Kombinasi teks dan narasi plus visual berpengaruh kuat bagi
mereka yang memiliki modalitas auditori tinggi, kurang berpengaruh bagi yang
sebaliknya. Kombinasi teks, visual dan simulasi berpengaruh kuat bagi mereka
yang memiliki modalitas kinestetik tinggi, kurang berpengaruh bagi yang
sebaliknya.
11)
Prinsip
Praktek
Interaksi adalah hal terbaik
untuk belajar,kerja praktek dalam memecahkan masalah dapat meningkatkan cara
belajar dan pemahaman yang lebih mendalam tentang materi yang sedang
dipelajari.
12)
Pengandaian
Menjelaskan materi dengan audio
meningkatkan belajar. Siswa belajar lebih baik dari animasi dan narasi,
daripada dari animasi dan teks pada layar.
jadi, kesimpulannya prinsip-prinsip dalam multimedia ini sangat berpengaruh terhadap penggunaan
multimedia (kombinasi antara teks, gambar, grafik, audio/narasi,
animasi, simulasi, video) secara efektif untuk mengakomodir perbedaan modalitas
belajar.
Permasalahan:
1. untuk membuat pembelajaran dengan berbasis multimedia diperlukannya guru atau pengajar yang mengerti dengan TIK, bagaimana dengan kondisi guru yang berada di daerah pelosok yang mana mendapatkan batasan sarana dan prasarana?
2. Banyak kritik telah dilontarkan terhadap pembelajaran multimedia sebagai pembelajaran yang bersifat isolatif sehingga bertentangan dengan tujuan sosial dari sekolah. Siswa seolah-olah dikondisikan untuk menjadi individualis-individualis dan kontak sosial dengan teman-teman menjadi sesuatu yang asing. bagaimana pendapat anda dengan hal ini?
3. adakah pelatihan khusus yang dilakukan untuk para guru dalam multimedia sebagai sarana penunjang dalam pembelajaran?
Permasalahan:
1. untuk membuat pembelajaran dengan berbasis multimedia diperlukannya guru atau pengajar yang mengerti dengan TIK, bagaimana dengan kondisi guru yang berada di daerah pelosok yang mana mendapatkan batasan sarana dan prasarana?
2. Banyak kritik telah dilontarkan terhadap pembelajaran multimedia sebagai pembelajaran yang bersifat isolatif sehingga bertentangan dengan tujuan sosial dari sekolah. Siswa seolah-olah dikondisikan untuk menjadi individualis-individualis dan kontak sosial dengan teman-teman menjadi sesuatu yang asing. bagaimana pendapat anda dengan hal ini?
3. adakah pelatihan khusus yang dilakukan untuk para guru dalam multimedia sebagai sarana penunjang dalam pembelajaran?
Baiklah disini saya akan mencoba menjawab pertanyaan nomor 1 yaitu keterbatasan sarana dan prasarana dengan kemampuan TIK itu hal yang berbeda. Keterbatasan sarana dan prasarana itu disebabkan dari sekolahnya masing-masing, sedangkan kemampuan TIK itu berasal dari gurunya. Jadi apabila di daerah pelosok tersebut terbatas akan sarana dan prasarana maka seorang guru harus kreatif dalam memilih media, seorang guru bisa menggunakan media video, audio ataupun foto yang bisa ditunjukkan secara langsung kepada peserta didik tanpa harus menggunakan infocus atau guru juga dapat menggunakan media sederhana dalam proses pembelajaran
BalasHapusterimakasih atas jawabaanya, menurut saya kemampuan TIK juga sangat berpengaruh dalam hal ini, dan dnegan didukung oleh sarana dan prasarana, jika sarana tidak memadai bagaimana guru akan belajar TIK atau menyalurkan pengetahuan TIK nya
HapusUntuk pertanyaan no 2. Multimedia merupakan hal yang dapat membantu guru untuk menudahkan pengajaran untul mencapai tujuan. Apabila dikatakan bahwa hal itu membuat sisw menjadi individualis, kembali lagi ke peranan guru dalam pembelajaran. Apabila guru tidak menjalankan perannya menjadi fasilitator dan koordinator maka hal tersebutlah yang membuat siswa menjadi individual. Namun, apabila guru menjalankan peranannya maka pembelajaran akan berjalan dengan baik. Seperti kita ketahui bahwa multimedia juga dapat membantu siswa untuk dapat berinteraksi dengan temannya dengan pertukaran pendapat atau sebagainya..
BalasHapusterimakasih atas jawabaanya, saya sependapat denganyang anda sebutkan, disini diperlukan peran guru agar anak tidak terlalu asik dengan media yang digunakan sehingga pelajaran dianggap hanya bermain saja
HapusUntuk pertanyaan nomor 3 saya akan mencoba menjawab, yang mana pelatihan untuk para guru juga dilakukan untuk meningkatan Manajeman dalam Pemanfaatan Media Pembelajaran. Pelatihan Pendidik Meningkatkan kualitas dan kecakapan guru dalam memenfaatkan media pembelajaran, selain juga membentuk sistem mental bagi semua guru untuk memanfaatkan media pembelajaran secara profesioanal dan sadar. Yang terpenting adalah membentuk mindset berfikir untuk secara sadar menggunakan media pembelajaran dalam mengajar, setelah itu baru mengadakan pelatihan pemanfaatan media pembelajaran. Fungsi pelatihan adalah membantu pendidik dalam memperoleh pengetahuan dan keterampilan dalam memproduksi dan mengembangkan media pembelajaranm. Karena kesadaran untuk memanfaatkan media jauh lebih penting dari pada pelatihan memanfaatkan media tertentu, apa faedahnya jika guru mahir memanfaatkan media tetapi tetap malas menggunakannya atau memanfaatkan media hanya untuk menggantikan posisi kehadirannya. Pelatihan bisa dilakukan dengan membentuk sebuah forum nonformal yang mengundang ahli media pembelajaran.
BalasHapusSaya ingin bertanya dari tanggapan saudari intan.tadi telah dijelaskan "kesadaran untuk memanfaatkan media jauh lebih penting dari pada pelatihan memanfaatkan media tertentu, apa faedahnya jika guru mahir memanfaatkan media tetapi tetap malas menggunakannya atau memanfaatkan media hanya untuk menggantikan posisi kehadirannya."
HapusMenurut saudari, Bagaimana cara menimbulkan kesadaran untuk memanfaatkan media pada guru yang seperti itu?
menurut saya guru itu harus mengerti dahulu pengertian media pembelajaran. dan saya rasa sebagai seorang guru tentu mereka telah mengetahui apa itu media pembelajaran dan apa manfaatnya atau fungsi nya dalam proses pembelajaran, seperti yang kita tahu bahwa media pembelajaran sangat brpengaruh terhadap hasil belajar karena di dalam media terdapat motivasi yg sangat diperlukan siswa dalam belajar.saya kurang setuju dnegan kalimat saudari intan yg mengatakan bahwa "kesadaran untuk memanfaatkan media jauh lebih penting dari pada pelatihan memanfaatkan media tertentu" bukankah jika kita dilatih dari yang semula kita tidak tahu akan menjadi tahu? saya rasa pelatihan sangat diperlukan bagi guru untuk pengembangan dan memanfaatkan media.
HapusUntuk pertanyaan kedua, sebenarnya penggunaan media menuntut peran aktif dari siswa agar saling berinteraksi satu sama lain dan saling bercurah pendapat. Hal ini berdasarkan dari pembuatan media yang harus menarik dan dapat menimbulkan permasalahan yang nantinya dapat menimbulkan rasa ingin tahu. Dari sini muncullah proses interaksi untuk memecahkan masalah tersebut. Guru disini berperan sebagai fasilitator dalam munculnya sesi curah pendapat dan interaksi antar siswa.
BalasHapusterimakasih atas pendapatnya, saya sedikit ingin menambahkan bahwa dalam hal ini guru dituntut kreativ agar media yang digunakan dapat mendukung kegiatan beajar sehingga anak tidak asik sendiri
Hapussaya ingin menanggapi pertanyaan yang ke 3.
BalasHapusmenuru saya seorang guru perlu di berikan pelatihan tentang penggunan multimedia sebagai sarana penunjang pembelajaran,hal ini dikarenakan tidak semua guru dapat mengoperasikan multimedia dalam materi ajarnya.ketika guru tidak dapat menyampaikan materi ajar dengan baik, maka media pembelajarannyalah yang akan menyelamatkan guru tersebut agar pembelajaran tetap berjalan dan murid/siswa dapat memahami apa yang diajarkan.
terimakasih atas jawabannya, saya juga sependapat dnegan saudara, dengan adanya pelatihan ini akan membantu guru dalam memahamai TIK sehingga tidak lgi kita temui guru yang tidak bisa mengoperasikan komputer dimana pada zaman teknologi seperti ini hal itu sangat penting
HapusSaya ingin mencoba menanggaapi permasalahan pertama saudari mengenai “untuk membuat pembelajaran dengan berbasis multimedia diperlukannya guru atau pengajar yang mengerti dengan TIK, bagaimana dengan kondisi guru yang berada di daerah pelosok yang mana mendapatkan batasan sarana dan prasarana” menurut saya pembelajran berbasis multimedia memang tidak bisa sepeuhnya dilakukan didaerah terpencil karena selain kurangnya tenaga pengajar yang mengerti tentang TIK juga siswa tidak mengerti,selain itu sarana dan prasarana juga kurang memadai untuk mendukung pembelajran berbasis multimedia.
BalasHapus