Steroid merupakan salah satu
golongan senyawa metabolit sekunder yang cukup penting dalam bidang medis.
Beberapa jenis senyawa steroid yang digunakan dalam dunia obat-obatan antara
lain estrogen merupakan jenis steroid hormon seks yang digunakan untuk kontrasepsi
sebagai penghambat ovulasi, progestin merupakan steroid sintetik digunakan
untuk mencegah keguguran dan uji kehamilan, glukokortikoid sebagai anti
inflamasi, alergi,demam, leukemia dan hipertensi serta kardenolida merupakan
steroid glikosida jantung digunakan sebagai obat diuretik dan penguat jantung
(Doerge, 1982).
Steroid adalah
senyawa organik lemak sterol tidak terhidrolisis yang dapat dihasil reaksi
penurunan dari terpena atau skualena. Steroid merupakan kelompok senyawa yang
penting dengan struktur dasar sterana jenuh (bahasa Inggris: saturated
tetracyclic hydrocarbon : 1,2-cyclopentanoperhydrophenanthrene) dengan 17 atom
karbon dan 4 cincin. Senyawa yang termasuk turunan steroid, misalnya
kolesterol, ergosterol, progesteron, dan estrogen. Pada umunya steroid
berfungsi sebagai hormon. Steroid mempunyai struktur dasar yang terdiri dari 17
atom karbon yang membentuk tiga cincin sikloheksana dan satu cincin
siklopentana.
A.
Asal-usul
Steroid
sejak abad ke-17 orang telah dapat memisahkan berbagai
jenis
senyawa dari sumber-sumber organik, baik tumbuhan,
hewan maupun mikroorganisme. Senyawa-senyawa tersebut misalnya asam laktat,
morfin, kuinin, mentol, kolesterol, penisilin dan sebagainya. Steroid
merupakan salah satu bahan obat yang sangat penting yang banyak digunakan dalam
bidang farmasi. Steroid alam telah lama digunakan untuk pembuatan bahan baku
obat yang mengandung hormon.
Percobaan-percobaan
biogenetik menunjukkan bahwa steroid yang terdapat dialam berasal dari
triterpenoid. Steroid yang terdapat dalam jaringan hewan beasal dari
triterpenoid lanosterol sedangkan yang terdapat dalam jaringan tumbuhan berasal
dari triterpenoid sikloartenol setelah triterpenoid ini mengalami serentetan
perubahan tertentu. tahap- tahap awal dari biosintesa steroid adalah sama bagi
semua steroid alam yaitu pengubahan asam asetat melalui asam mevalonat dan
skualen (suatu triterpenoid) menjadi lanosterol dan sikloartenol.
Percobaan-percobaan menunjukkan bahwa skualen terbentuk dari dua molekul
farnesil pirofosfat yang bergabung secara ekor-ekor yang segera diubah menjadi
2,3-epoksiskualen. selanjutnya lanosterol terbentuk oleh kecenderungan
2,3-epoksiskualen yang mengandung lima ikatan rangkap untuk melakukan siklisasi
ganda. Siklisasi ini diawali oleh protonasi guigus epoksi dan diikuti oleh
pembukaan lingkar epoksida. Kolesterol terbentuk dari lanosterol setelah
terjadi penyingkiran tiga gugus metil dari molekul lanosterol yakni dua dari
atom karbon C-4 dan satu dari C-14. Penyingkiran ketiga gugus metil ini
berlangsung secara bertahap, mulai dari gugus metil pada C-14 dan selanjutnya
dari C-4. Kedua gugus metil pada kedua C-4 disingkirkan sebagai karbon
dioksida, setelah keduanya mengalami oksidasi menjadi gugus karboksilat.
sedangkan gugus metil pada C-14 disingkirkan sebagai asam format setelah gugus
metil itu mengalami oksidasi menjadi gugus aldehid.
Percobaan dengan jaringan hati hewan, emnggunakan 2,3 epoksiskualen yang diberi tanda dengan isotop 180 menunjukkan bahwa isotop 180 itu digunakan untuk pembuatan lanosterol menghasilkan (180)- lanosterol radioaktif. Hasil percobaan ini membuktikan bahwa 2,3- epoksiskualen terlibat sebagai senyawa antara dalam biosintesa steroida. Molekul kolestrol terdiri atas tiga lingkar enam yang tersusun seperti fenantren dan terlebur dalam suatu lingkar lima. Hidrokarbon tetrasiklik jenuh yang mempunyai sistem lingkar demikian dan terdiri dari 17 atom karbon sering ditemukan pada banyak senyawa yang tergolong senyawa bahan alam yang disebut stroida.
Percobaan dengan jaringan hati hewan, emnggunakan 2,3 epoksiskualen yang diberi tanda dengan isotop 180 menunjukkan bahwa isotop 180 itu digunakan untuk pembuatan lanosterol menghasilkan (180)- lanosterol radioaktif. Hasil percobaan ini membuktikan bahwa 2,3- epoksiskualen terlibat sebagai senyawa antara dalam biosintesa steroida. Molekul kolestrol terdiri atas tiga lingkar enam yang tersusun seperti fenantren dan terlebur dalam suatu lingkar lima. Hidrokarbon tetrasiklik jenuh yang mempunyai sistem lingkar demikian dan terdiri dari 17 atom karbon sering ditemukan pada banyak senyawa yang tergolong senyawa bahan alam yang disebut stroida.
B.
Struktur molekul
steroid
steroid
mempunyai struktur dasar yang terdiri dari 17 atom karbon yang membentuk tiga cincin sikloheksana dan satu cincin
siklopentana. Perbedaan jenis steroid yang satu dengan steroid
yang lain terletak pada gugus fungsional yang
diikat oleh ke-empat cincin ini dan tahap oksidasi tiap-tiap cincin.
C. Klasifikasi Steroid
Steroid terdiri atas beberapa
kelompok senyawa yang pengelompolannya didasarkan pada efek fisiologis yang
dapat ditimbulkan. Ditinjau dari segi struktur, perbedaan antara berbagai
kelompok ini ditentukan oleh jenis subtituen R1, R2, dan R3 yang terikat
pada kerangka dasar sedangkan perbedaan antara senyawa yang satu dengan senyawa
lain dari satu kelompok ditentukan oleh panjangnya rantai karbon subtituen,
gugus fungsi yang terdapat pada subtituen, jumlah dan posisi gugus fungsi
oksigen dan ikatan rangkap pada kerangka dasar serta konfigurasi pusat
asimetris pada kerangka dasar. Kelompok-kelompok tersebut adalah sebagai
berikut.
1. Sterol Lemak sterol adalah bentuk khusus dari steroid dengan
rumus bangun diturunkan dari kolestana dilengkapi gugus hidroksil
pada atom C-3,
banyak ditemukan pada tanaman, hewan dan
fungi. Semua
steroid dibuat di dalam sel dengan bahan baku berupa lemak sterol, baik berupa lanosterol pada hewan atau
fungsi, maupun berupa sikloartenol pada tumbuhan. Kedua
jenis lemak sterol di atas terbuat dari siklisasi squalena dari triterpena. Kolesterol
adalah jenis lain lemak sterol yang umum dijumpai. Lemak sterol juga
dikenal sebagai alkohol steroid, sebuah subkelompok steroid dengan gugus
hidroksil pada posisi ketiga dari cincin-A. Lemak sterol bersifat amfipatik
yang terbentuk dari acetyl-coenzyme A melalui jalur HMG-CoA reductase.
Lemak sterol nabati disebut
fitosterol dan yang hewani disebut zoosterol.
Jenis zoosterol yang penting antara lain adalah kolesterol dan hormon steroid. Sedangkan pada fitosterol dikenal
campesterol, sitosterol, dan
stigmasterol. Ergosterol adalah lemak sterol yang ditemukan pada membran sel fungi yang berfungsi layaknya kolesterol
pada hewan. Sebenarnya nama sterol
dipakai khusus untuk steroid yang memiliki gugus hidroksi, tetapi karena praktis semua steroid tumbuhan berupa
alkohol dengan gugus hidroksi pada
posisi C-3, maka semuanya disebut sterol. Selain dalam bentuk bebasnya, sterol juga sering dijumpai sebagai glikosida atau sebagian ester dengan asam lemak. Glikosida sterol
sering disebut sterolin.
2. Asam
Empedu Asam empedu adalah asam steroid
yang diproduksi oleh hati dan disimpan di dalam empedu. Asam empedu biasa ditemukan
dalam bentuk asam kolik dengan
kombinasi dengan glisin dan taurin. Asam empedu utama (primer) yang terbentuk dihati adalah asam kolat dan
asam kenodeoksikolat. Di kolon, bakteri mengubah asam kolat menjadi asam
deoksikolat dan asan kenodeoksikolat
menjadi asam litokolat. Karena terbentuk akibat kerja bakteri, asam deoksikolat dan asam litokolat disebut
sebagai asam empedu sekunder
3. Hormon Kelamin Hormon kelamin
dihasilkan oleh gonad dan adrenal yang diperlukan untuk konsepsi, maturasi
embrionik, dan perkembangan ciri-ciri khas seks primer dan sekunder pada
pubertas. Hormon kelamin pada umumnya merupakan turunan steroid, molekulnya
bersifat planar dan tidak lentur. Kerangka dasarnya adalah
cyclopentanoperhydrophenanthrene yang bersifat kaku. Hormon kelamin dibagi dalam empat kelompok
yaitu:
a.Hormon androgen (testosteron dan
dihidrotestosteron)
b.Hormon estrogen (estradiol, estron, dan
estriol)
c.Hormon progestin (progesteron)
d.Obat kontrasepsi

4. Hormon Adrenokortikoid Hormon
adrenokortikoid merupakan hormon steroid yang disintesis dari kolesterol dan
diproduksi oleh kelenjar adrenalis bagian korteks. Pengeluaran hormon
dipengaruhi oleh adreno cortico tropin hormon (ACTH) yang berasal dari kelenjar
pituitari anterior. Beberapa fungsi fisiologisnya berhubungan dengan
kardiovaskuler dari darah, sistem saraf pusat, otot polos dan stress. Hormon
adrenokortikoid terbagi menjadi 2, yaitu:
a. Mineralokortikoid Aktivitas
mineralokortikoid mempengaruhi elektrolit (mineral) cairan ekstrasel, terutana
natriun dan kalium. Pada manusia, terutama adalah aldosteron.
b. Glukokortikoid Glukokortikoid dapat
meningkatkan glukosa darah, serta efek tambahan pada metabolisme protein dan
lemak seperti pada metabolisme karbohidrat. Yang termasuk dalam hormon
glukokortikoid adalah kortisol atau hidrokortisol.
5. Aglikon kardiak Aglikon kardiak dam
bentuk glikosidanya lebih dikenal sebagai glikosida jantung dan kardenolida.
Tumbuhan yang mengandung senyawa ini telah digunakan sejak jaman prasejarah sebagai
racun. Glikosida ini mempunyai efek kardiotonik
yang khas. Keberadaan senyawa ini dalam tumbuhan mungkin memberi
perlindungan kepada tumbuhan dari gangguan beberapa serangga tertentu.
6. Sapogenin Sapogenin dan bentuk
glikosidanya yang dikenal sebagai saponin. Glikolisasi biasanya terjadi pada posisi
C-3. Saponin adalah senyawa yang dapat menimbulkan busa jika dikocok dalam air
(karena sifatnya yang menyerupai sabun, maka dinamakan saponin). Saponin
bersifat amfifilik karena sapogenin bersifat lipofilik serta sakarida yang
hidrofilik. Saponin dapat membentuk busa dan merusak membran sel karena bisa
membentuk ikatan dengan lipida dari membran sel. Pada konsentrasi yang rendah,
saponin
dapat menyebabkan hemolisis sel darah merah. Dalam
bentuk larutan yang sangat encer, saponin sangat beracun untuk ikan.
Berdasarkan sifat kimia saponin diklasifikasikan menjadi 2, yaitu;
a. Saponin steroid, tersusun atas inti
steroid (C27) dengan molekul karbohidrat. Tipe saponin ini memiliki afek anti
jamur. Contohnya: Asparagosida (terkandung dalam tumbuhan Asparagus
sarmentosus).
b. Saponin triterpenoid, tersusun atas
inti terpenoid dengan karbohidrat. Contohnya: Asiacosida
D. STEREOKIMIA STEROIDA
Stereokimia steroida telah diselidiki oleh para ahli
kimia dengan menggunakan cara analisa sinar X dari struktur kristalnya atau
cara-cara kimia, Percobaan-percobaan menunjukkan bahwa konfigurasi dari
kerangka dasar steroida dapat dinyatakan sebagai berikut :
Dari model
molekul menunjukkan bahwa molekul steroida adalah planar (datar). Atom atau
gugus yang terikat pada inti molekul dapat dibedakan atas dua jenis yaitu :
1.
Atom atau gugus yang terletak disebelah atas bidang
molekul yaitu pada pihak yang sama dengan gugus metil pada C10 dan C13
yang disebut konfigurasi. Ikatan-ikatan yang menghubungkan atom atau gugus ini
dengan inti molekul digambarkan dengan garis tebal
2.
Atom atau gugus yang berada disebelah bawah bidang
molekul yang disebut dengan konfigurasi dan ikatan-ikatannya digam,barkan
dengan garis putus-putus. Sedangkan atom atau gugus yang konfigurasinya belum
jelas apakah atau. Dinyatakan dengan garis bergelombang. Kedua konfigurasi
steroida tersebut mempunyai perbedaan yaitu :
a.
Pada konfigurasi pertama, Cincin A dan cincin B
terlebur sedemikian rupa sehingga hubungan antara gugus metil pada C10
dan atom hidrogen pada atom C5 adalah trans (A/B trans). Pada
konfigurasi ini gugus metil pada C10 adalah dan atom hidrogen pada C5
b.
Pada konfigurasi kedua, peleburan cincin A dan B
menyebabkan hubungan antara gugus metil dab atom hidrogen menjadi Cis (A/B Cis)
dan konfigurasi kedua substituen adalah. Steroida dimana konfigurasi atom C5
adalah termasuk deret 5.
Pada kedua konfigurasi tersebut,
hubungan antara cincin B/C dan C/D keduanya adalah trans. Cincin B dan C diapit
oleh cincin A dan cincin D sehingga perubahan konfirmasi dari cincin B dan
cincin C sukar terjadi. Oleh karena itu peleburan cincin B/C dalam semua
steroida alam adalah trans Akan tetapi perubahan konfirmasi dari cincin A dan
Cincin B dapat terjadi. Perubahan terhadap cincin A menyebabkan steroida dapat
berada dalam salah satu dari kedua konfigurasi tersebut. Perubahan terhadap
cincin D dapat m,engakibatkan hal yang sama, sehingga peleburan cincin C/D
dapat cis atau trans. Peleburan cincin C/D adalah trans ditemukan pada hampir
sebagian besar steroida alam kecuali kelompok aglikon kardiak dimana C/D adalah
cis. Pada semua steroida alam, substituen pada C10 dan C9
berada pada pihak yang berlawanan dengan bidang molekul yaitiu trans. Dan juga
hubungan antara sunstituen pada posisi C8 dan C14 adalah
trans kecuali pada senyawa-senyawa yang termasuk kelompok aglikon kardiak.
Dengan demikian, stereokimia dari steroida alam mempunyai suatu pola umum,
yaitu substituen-substituen pada titik-titik temu dari cincin sepanjang tulang
punggung molekul yaitu C-5-10-9-8-14-13 mempunyai hubungan trans.
Sifat-sifat steroida sama seperti senyawa organik
lainnya, yaitu reaksi-reaksi dari gugus-gugus fungsi yang terikat pada molekul
steroida tersebut. Misalnya, gugus 3-hidroksil menunjukkan semua sifat dari
alkohol sekunder, tak ubahnya seperti ditunjukkan oleh 2-propanol. Gugus hidroksil
ini dapat diesterifikasi untuk menghasilkan ester atau dioksidasi dengan
berbegai oksidator yang menghasilkan suatu keton. Karena bentuk geometri gugus
3-hidroksil sedikit berbeda dengan sifat-sifat gugus hidroksil yang terikat
pada posisi lain. Karena faktor geometri maka gugus 3-hidroksil memperlihatkan
sifat yang sidikit berbeda dengan 3- hidroksil, yaitu gugus 3-hidroksil lebih
sukar mengalami dehidrasi dibandingkan dengan gugus 3-hidroksil walaupun
prinsip dari reaksi yang terjadi adalah sama. Kestabilan steroida ditentukan
oleh interaksi 1,3 yang terjadi antara suatu gugus fungsi yang berorientasi
aksial dan molekul akan lebih stabil apabila sebagian besar gugus fungsi
berorientasi ekuatorial. Laju reaksi juga ditentukan oleh faktor sterik, tanpa
kecuali gugus hidroksi ekuatorial lebih mudah diesterifikasi dari pada gugus
aksial. Akan tetapi gugus fungsi aksial lebih mudah dioksidasi dari pada gugus
hidroksil yang ekuatorial.
E.
Isolasi dan
pemurnian serta penentuan struktur
senyawa golongan steroid memiliki bioaktivitas yang
penting, misalnya dalam pembentukan struktur membran, pembentukan hormon dan
vitamin D, sebagai penolak dan penarik serangga dan sebagai anti mikroba (2) Senyawa
steroid di alam terdapat pada hewan dan tumbuhan, uji fitokimia yang dilakukan
oleh Manjang (2001) tumbuhan yang mengandung senyawa steroid yaitu beberapa
spesies dari Solanaceae (terong – terongan), Theaceae (teh) dan Annonaceae (sirsak).
Salah satu contoh spesies dari Solanaceae yang telah diisolasi yaitu Solanum
mammosum (terong susu). Steroid merupakan salah satu senyawa penting dalam
bidang medis. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian terhadap senyawa
steroid ini. Pemanfaatan rimbang (Solanum torvum)yang telah dikenal luas baru
sebatas buahnya untuk dikonsumsi sebagai sayur atau lalap yang mengandung β–
karoten sebagai sumber vitamin A. Selain itu daun rimbang berkhasiat sebagai
obat luka dengan caramenggiling dan menempelkannya. Dilihat dari khasiat daun
nya, diperkirakan daun rimbang mengandung senyawa metabolit sekunder, salah satunya
senyawa golongan steroid. Senyawa golongan steroid yang diperkirakan memiliki kemampuan
membantu penyembuhan luka adalah 7 – dehidrokolesterol yang dapat diubah
menjadi vitamin D dengan bantuan cahaya ultraviolet, vitamin D inilah yang membantu
penyerapan kalsium sebagai salah satu komponen yang dibutuhkan pada pembekuan
darah pada saat terjadi luka. Menurut penelusuran literatur tentang tumbuhan
rimbang diketahui adanya senyawa aktif sapogenin dalam tumbuhan ini, yaitu
klorogenin. Senyawa ini dapat membunuh tikus dengan menurunkan jumlah eritrosit,
leukosit dalam darah (4) Uji fitokimia terhadap daun rimbang ternyata
mengandung steroid (+3), serta alkaloid (+2). Keberadaan steroid ini dicirikan
dengan timbulnya warna hijau kebiruan dengan menggunakan pereaksi Lieberman –
Burchard.
adanya steroid dalam daun rimbang
dapat diketahui dengan cara sebagai berikut:
10 gram
sampel dari daun rimbang dihaluskan selanjutnya dimaserasi dengan metanol
kemudian disaring, filtratnya diuji dengan pereaksi Lieberman Burchard diatas
plat tetes. Kedalam plat tetes dimasukkan ekstrak metanol kemudian 5 tetes asam
asetat anhidrida lalu diaduk, setelah kering ditambahkan 1 tetes asam sulfat
pekat, jika terbentuk warna hijau-biru berarti sampel positif mengandung steroid.
Uji Steroid terhadap masing-masing Fraksi .Ekstrak
dari fraksi heksan (hijau kecoklatan), fraksi etil asetat (hijau kehitaman) dan
fraksi metanol air (coklat) diuji dengan pereaksi Lieberman Burchard Campuran asam
asetat anhidrat dengan asam sulfat pekat, jika terbentuk warna hijau–biru
berarti
fraksi tersebut positif mengandung
steroid (8) dan dengan uji Roseinheim
menghasilkan warna biru (9)
Pemisahan dan Pemurnian
Fraksi heksan yang positif
mengandung steroid dilanjutkan ke kromatografi
kolom dengan mensuspensikan silika
gel dengan heksan, kemudian dimasukkan kedalam kolom yang bagian bawahnya telah
disumbat dengan kapas. Pelarut yang ada dalam kolom dibiarkan mengalir
perlahan-lahan sambil diketok sehingga diperoleh massa yang homogen. Fraksi
yang positif mengandung steroid dipreabsorbsi dengan cara menambahkan pelarut
sampai semua sampel larut, lalu ditambahkan silika gel dalam jumlah yang sama
banyak dengan sampel kemudian dirotary sampai kering.
Hasil preabsorpsi dimasukkan kedalam
kolom, selanjutnya dielusi dengan pelarut (heksan sampai etil asetat) yang
kemudian dinaikkan kepolarannya secara bertahap (sistem SGP) dengan volume
tertentu. Fraksi yang turun (+ 20 ml) ditampung dengan vial-vial kosong dan
diberi nomor urut lalu dibiarkan kering. Eluat di KLT dan yang mempunyai Rf
yang sama digabung menjadi 1 fraksi kemudian dikeringkan dan dilakukan uji
steroid. Fraksi yang positif mengandung steroid digabung menjadi 1 fraksi,
dibiarkan terbentuk kristal kemudian dilakukan rekristalisasi dan selanjutnya
diuji kemurniannya dengan pengukuran titik leleh dan analisis KLT. Pengukuran
titik leleh dengan melting point apparatus dilakukan untuk memastikan kemurnian
senyawa, yaitu dengan cara meletakkan beberapa butir kristal
diantara 2 lempeng kaca objek
mikroskop, kemudian alat dihidupkan dan diatur kenaikan suhu. Amati suhu saat
kristal mulai meleleh sampai saat meleleh sempurna.
Permasalahan:
1. Dalam obat-obatan, apakah steroid
termasuk dalam obatan berbahya? Jelaskan!
2. Terdapat kasus dalam penyalahgunaan
obat steroid yaitu salah satunya penyalahgunaan steroid anabolik yang digunakan
untuk meningkatkan otot, mengurangi lemak, dan meningkatkan kinerja atletik dan
penampilan tubuh, bagaimana steroid bisa melakukan hal tersebut? Apa yang
menyebabkan hal ini menjadi ilegal?
3. Apa yang membedakan antara steroid
satu dengan steroid lainnya?





saya ingin mencoba menanggapi permasalahan pertama saudari
BalasHapusSteroid adalah istilah untuk suatu jenis zat yang berperilaku seperti hormon yang diproduksi oleh tubuh. ada 2 jenis, yakni kortikosteroid dan anabolik steroid (istilah untuk tetosteron buatan). Kortikosteroid merupakan zat yang memiliki efek antiinflamasi/anti peradangan dan banyak digunakan untuk mengatasi berbagai jenis penyakit, meski demikian potensi efek sampingnya yang banyak membuat pemakaiannya mutlak harus dengan indikasi yang tepat dan dengan pengawasan dokter.
Anabolik steroid (tetosteron buatan) adalah suatu hormon pria yang memang dapat meningkatkan massa otot dan sering disalahgunakan.Pemakaiannya hanya dibenarkan pada kondisi dimana seseorang kekurangan hormon tetosteron. pemakaiannya dalam fitness atau tujuan seperti yang anda lakukan sudah termasuk dalam drug abuse atau penyalahgunaan obat-obatan. dalam jangka pendek memang efeknya tampak baik tetapi jangka panjang dan dengan dosis yang smebarangan akan menyebabkan :
1.gangguan produksi tetosteron / hormon pria laami, berujung pada ketidaksuburan, pengecilan ukuran buah zakar dan bahkan pembesaran payudara
2. retensi cairan dan garam sehingga akan meningkatkan beban jantung dan meningkatkan resiko Anda mengalami gangguan jantung di masa mendatang
3. memberaktan kerja liver dan berpotensi merusaknya
4. memperberat kerja ginjal Anda dan berpotensi menyebabkan kerusakan ginjal
5. kebotakan
6. pembesaran prostat yang menyebabkan gangguan kencing di masa mendatang
7. gangguan emosional, cenderung berperilaku agresif dan tempramental
Menjawab permasalahan ketiga, Perbedaan antara beberapa jenis steroid ditunjukkan oleh jenis subtituen R1, R2 dan R3 yang terikat pada kerangka dasar steroid. Sedangkan perbedaan antara senyawa satu dengan yang lainnya dari suatu kelompok, ditentukan oleh panjang rantai karbon R1, R2 dan R3, jumlah dan posisi ikatan rangkap, jumlah dan posisi oksigen serta konfigurasi dari pusat-pusat asimetri pada kerangka dasar karbon steroid. Jika senyawa steroid digambarkan sebagai suatu molekul yang palanar, maka ada dua kedudukan yang dapat dimiliki oleh setiap gugus yang terikat pada kerangka dasar steroid. Jika gugus tersebut berada di atasbidang molekul, berarti terletak sebidang dengan gugus metal pada C-10 dan C-13 maka gugus tersebut diistilahkan sebagai konfigurasi ß, digambarkan garis tebal. Sebaliknya bila gugus tertentu terikat disebelah bawah bidang molekul maka disebut konfigurasi α dan ikatannya digambrkan dengan garis putus-putus. Sedangkan gugus yang konfigurasinya belum jelas dinyatakan sebagai ξ (xi) dan ikatannya digambarkan sebagai gelombang.
BalasHapusSaya ingin menambahkan, Perbedaan jenis steroid yang satu dengan steroid yang lain terletak pada gugus fungsional yang diikat oleh ke-empat cincin ini dan tahap oksidasi tiap-tiap cincin, yang dimana untuk gambarnya dan penjelasannya bisa dilihat pada tulisan di atas
Hapussaya akan menanggapi permasalah pertama sudari dimana Salah satu jenis doping yang paling sering di gunakan para atlet adalah obat-obatan anabolik, termasuk hormon androgenik steroid. Jenis hormon ini punya efek berbahaya, baik bagi atlet pria maupun atlet perempuan karena mengganggu keseimbangan hormon tubuh serta meningkatkan risiko terkena penyakit hati dan jantung. Selain sejumlah kerugian tadi,dampak kejiwaan yang diderita atlet pengguna doping yang ketahuan adalah suatu siksaan tersendiri. Banyak atlet pemakai doping yang menderita depresi. Oleh karena itu, hanya mereka (atlet) yang menggunakan "doping" 99 % bakat, 99 % keuletan, dan 99 % kerja kerasyang akan memenangi kompetisi (Restianti, 2006:1).
BalasHapusbaik saya akan menjawab permasalahan no 3
BalasHapusPerbedaan jenis steroid ditentukan subtituen R1, R2, dan R3
Perbedaan dalam satu kelompok tergantung juga pada :
♣ Panjang subtituen R1
♣ Gugus fungsi subtituen R1, R2, dan R3
♣ Jumlah dan posisi ikatan rangkap
♣ Jumlah dan posisi oksigen
♣ Konfigurasi pusat asimetris inti dasar
Contohnya : Gonane adalah steroid yang paling sederhana mungkin dan terdiri dari tujuh belas karbon atom, terikat bersama untuk membentuk empat cincin menyatu. Tiga sikloheksana cincin (ditunjuk sebagai cincin A, B, dan C pada gambar di bawah) membentuk kerangka fenantrena , cincin D memiliki siklopentana struktur.
saya ingin menjawab pertanyaan nomor 3, Perbedaan antara beberapa jenis steroid ditunjukkan oleh jenis subtituen R1, R2 dan R3 yang terikat pada kerangka dasar steroid. dan Perbedaan jenis steroid yang satu dengan steroid yang lain terletak pada gugus fungsional yang diikat oleh ke-empat cincin ini dan tahap oksidasi tiap-tiap cincin,
BalasHapus