Teori pembelajaran pemrosesan informasi menurut Gagne
Teori
pembelajaran pemrosesan informasi adalah bagian dari teori belajar sibernetik.
Secara sederhana pengertian belajar menurut teori belajar sibernetik adalah
pengolahan informasi. Dalam teori ini, seperti psikologi kognitif mengkaji
proses belajar penting dari hasil belajar namun yang lebih penting dari kajian
proses belajar itu sendiri adalah sistem informasi, sistem informasi inilah
yang pada akhirnya akan menentukan proses belajar.
Gagne
menjelaskan bagaimana proses belajar itu terjadi. Model proses belajar yang
dikembangkan oleh Gagne didasarkan pada teori pemrosesan informasi, yaitu sebagai
berikut :
1.
Rangsangan
yang diterima panca indera akan disalurkan ke pusat syaraf dan diproses sebagai
informasi.
2.
Informasi
dipilih secara selektif, ada yang dibuang, ada yang disimpan dalam memori
jangka pendek, dan ada yang disimpan dalam memori jangka panjang.
3.
Memori-memori
ini tercampur dengan memori yang telah ada sebelumnya, dan dapat diungkap
kembali setelah dilakukan pengolahan.
Dalam
bukunya Robert M. Gagne disebutkan bahwa : A very special kind of intellectual
skill, of particular in probelem solving, is called a cognitive strategy.
In term of modern learning theory, a cognitive strategy is a control process.
An internal process by means of which thinking. Gagne mengemukakan delapan fase
dalam satu tindakan belajar. Fase-fase itu merupakan kejadian-kejadian
eksternal yang dapat distrukturkan oleh siswa atau guru. Setiap fase
dipasangkan dengan suatu proses yang terjadi dalam pikiran siswa.
Kejadian-kejadian belajar itu akan diuraikan dibawah ini, yaitu:
1.
Fase
motivasi : siswa yang belajar harus diberi motivasi untuk memanggil informasi
yang telah dipelajari sebelumnya.
2.
Fase
pengenalan : siswa harus memberikan perhatian pada bagian-bagian yang esensial
dari suatu kejadian instruksional, jika belajar akan terjadi.
3.
Fase
perolehan : apabila siswa memperhatikan informasi yang relevan, maka ia telah
siap untuk menerima pelajaran.
4.
Fase retensi
: informasi baru yang diperoleh harus dipindahkan dari memori jangka pendek ke
memori jangka panjang. Ini dapat terjadi melalui penggulangan kembali
5.
Fase
pemanggilan : pemanggilan dapat ditolong dengan memperhatikan kaitan-kaitan
antara konsep khususnya antara pengetahuan baru dengan pengetahuan sebelumnya.
6.
Fase
generalisasi : biasanya informasi itu kurang nilainya, jika tidak dapat
diterapkan diluar konteks di mana informasi itu dipelajari.
7.
Fase
penampilan : tingkah laku yang dapat diamati. Belajar terjadi apabila stimulus
mempengaruhi individu sedemikan rupa sehingga performancenya berubah dari
situasi sebelum belajar kepada situasi sesudah belajar.
8.
Fase umpan
balik : para siswa harus memperoleh umpan balik tentang penampilan mereka yang
menunjukkan apakah mereka telah atau belum mengerti tentang apa yang diajarkan.
Penerapan
teori yang salah dalam situasi pembelajaran mengakibatkan terjadinya proses
pembelajaran yang sangat tidak menyenangkan bagi siswa yaitu guru sebagai
sentral bersikap otoriter, komunikasi berlangsung dalam satu arah, guru melatih
dan menentukan apa yang harus dipelajari murid. Penggunaan hukuman yang sangat
dihindari para tokoh behavioristik dianggap metode paling efektif untuk
menertibkan siswa.
Teori Pemerosesan Informasi Menurut Atkinsons
Model pemrosesan informasi menurut
Atkinson dan Shiffrin ini mendasarkan pada konsep memori dengan tiga bentuk
simpanannya yaitu memori sensoris atau memori cerapan indera, memori jangka
pendek, dan memori jangka panjang. Setiap bentuk simpanan dari teori ini
memiliki kapasitas dan tugas yang berbeda-beda. Memori cerapan indera memiliki
kemampuan untuk menyimpan sejumlah informasi yang ditangkap melalui indera yang
relatif terbatas untuk periode waktu yang sangat singkat. Pada saat kita
memperoleh informasi, informasi tersebut akan ditangkap oleh indera kita lalu
masuk ke dalam memori sensoris kita dan dipertahankan dalam waktu yang relative
singkat. Setelah itu, informasi tersebut akan ditransfer ke memori jangka
pendek. Pada memori jangka pendek informasi dipertahankan selama 30 detik atau
kurang.
Sensory Memory (SM)
Informasi masuk ke dalam sistem pengolah informasi manusia melalui berbagai saluran sesuai dengan inderanya. Sistem persepsi bekerja pada informasi ini untuk menciptakan apa yang kita pahami sebagai persepsi. Karena keterbatasan kemampuan dan banyaknya informasi yang masuk, tidak semua informasi bisa diolah. Informasi yang baru saja diterima ini disimpan dalam suatu ruang sementara (buffer) yang disebut sensory memory. Durasi suatu informasi dapat tersimpan di dalam sensory memory ini sangat singkat, kurang dari 1/2 sekon untuk informasi visual dan sekitar 3 sekon untuk informasi audio. Tahap pemrosesan informasi tahap pertama ini sangat penting karena menjadi syarat untuk dapat melakukan pemrosesan informasi di tahap berikutnya, sehingga perhatian pembelajar terhadap informasi yang baru diterimanya ini menjadi sangat diperlukan. Pembelajar akan memberikan perhatian yang lebih terhadap informasi jika informasi tersebut memiliki fitur atau ciri khas yang menarik dan jika informasi tersebut mampu mengaktifkan pola pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya (prior knowledge).
Short-term Memory (STM) atau \"Working Memory\"
Short-term memory atau working memory berhubungan dengan apa yang sedang dipikirkan seseorang pada suatu saat ketika menerima stimulus dari lingkungan. Durasi suatu informasi tersimpan di dalam short-term memory adalah 15 – 20 sekon. Durasi penyimpanan di dalam short-term memory ini akan bertambah lama, bisa menjadi sampai 20 menit, jika terdapat pengulangan informasi. Informasi yang masuk ke dalam short-term memory berangsur-angsur menghilang ketika informasi tersebut tidak lagi diperlukan. Jika informasi dalam short-term memory ini terus digunakan, maka lama-kelamaan informasi tersebut akan masuk ke dalam tahapan penyimpanan informasi berikutnya, yaitu long-term memory.
Long-term Memory (LTM)
Long-term memory merupakan memory penyimpanan yang relatif permanen, yang dapat menyimpan informasi meskipun informasi tersebut mungkin tidak diperlukan lagi. Informasi yang tersimpan di dalam long-term memory diorganisir ke dalam bentuk struktur pengetahuan tertentu, atau yang disebut dengan schema. Schema mengelompokkan elemen-elemen informasi sesuai dengan bagaimana nantinya informasi tersebut akan digunakan, sehingga schema memfasilitasi akses informasi di waktu mendatang ketika akan digunakan (proses memanggil kembali informasi). Dengan demikian, keahlian seseorang berasal dari pengetahuan yang tersimpan dalam bentuk schema di dalam long-term memory, bukan dari kemampuannya untuk melibatkan diri dengan elemen-elemen informasi yang belum terorganisasi di dalam long-term memory (Merrienboer dan Sweller, 2005).
Penyimpanan informasi dalam long-term memory dapat diumpamakan seperti peristiwa yang terjadi pada penulisan data ke dalam disket atau hardisk komputer atau pun perekaman suara ke dalam kaset. Kapasitas penyimpanan dalam long-term memory ini dapat dikatakan tak terbatas besarnya dengan durasi penyimpanan seumur hidup. Kapasitas penyimpanan disebut tak terbatas dalam arti bahwa tidak ada seseorang pun yang pernah kekurangan “ruang” untuk menyimpan informasi baru, berapa pun umur orang tersebut. Durasi penyimpanan seumur hidup diartikan sebagai informasi yang sudah masuk di dalam long-term memory tidak akan pernah hilang, meskipun bisa saja terjadi informasi tersebut tidak berhasil diambil kembali (retrieval) karena beberapa alasan.
Permasalahan:
1.
Bagaimana cara guru untuk mengaktifkan kembali ingatan siswa
terhadap pelajaran?
2.
Dalam teori gagne, guru sebagai sentral bersikap
otoriter. Apakah menurut anda teori ini efektif di terapkan dalam pemerosesan
informasi?
3.
Informasi masuk ke dalam sistem pengolah informasi
manusia melalui berbagai saluran sesuai dengan inderanya. Bagaimana cara guru
menerapkan pernyataan ini?